Sabtu, 25 September 2010

Opera Karnaval Akan Awali Festival Museum 2010

Jogja – Ditengah keprihatinan atas hilangnya sejumlah benda cagar budaya dan artefak koleksi Museum Sonobudoyo Yogyakarta, Badan Musyawarah Musea (Barahmus) DIY yang bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan Propinsi DIY tetap akan menggelar Festival Museum 2010 pada tanggal 26 September - 1 Oktober 2010 mendatang. Festival Museum 2010 yang akan diikuti 30 museum yang ada di DIY ini diselenggarakan untuk mendukung program tahun kunjungan museum 2010 dan menggalakkan gerakan nasional cinta museum yang telah dicanangkan pemerintah.

Ketua Panitia Festival Museum 2010, RM. Donny S Megananda mengatakan, festival museum merupakan event tahunan yang akan diawali dengan opera karnaval yang merupakan repertoar kolosal yang akan menampilkan aksi keprihatinan akan hilangnya benda cagar budaya koleksi emas Museum Sonobudoyo. Opera karnaval yang dimainkan oleh peserta dari museum-museum di DIY ini akan berjalan di sepanjang jalan Malioboro, pada 26 September 2010 yang akan dimulai dari Taman Parkir Abu Bakar Ali menuju ke depan Istana Negara Gedung Agung. Opera Karnaval dalam bentuk Kirab Museum yang memadukan elemen benda koleksi museum ini menjadi sebuah alur pertunjukan utuh yang tetap menonjolkan ciri identitas dan keunikan diantaranya rudal raksasa TNI AU, defile pasukan jaman dahulu dengan baju & senjata asli, koleksi benda budaya, kendaraan hias, dll.

"Opera karnaval yang berupa kirab ini akan mengawali Festival Museum 2010. Peserta kirab dari masing-masing museum akan menampilkan koleksi-koleksi asli museum di hadapan masyarakat. Benda-benda koleksi yang diperlihatkan ini memiliki kisah menarik dalam perjalanan budaya masyarakat Indonesia," katanya ketika ditemui di Benteng Vredeburg Yogyakarta, Jumat (24/9).

Festival Museum 2010 yang bertemakan “Gerakan Nasional Cinta Museum untuk mewujudkan Museum di Hatiku dengan Mensukseskan Tahun Kunjung Museum 2010” ini akan menampilkan beragam kegiatan unggulan seperti pameran Bersama 30 lebih museum-museum di DIY yang bertempat di kompleks Museum Benteng Vredeburg, menampilkan ratusan koleksi bersejarah dan mahakarya budaya tradisi bangsa; Open House Istana Kepresidenan Gedung Agung Yogyakarta selama festival museum berlangsung; Peluncuran Perdana Film Animasi 3-Dimensi Proklamasi Kemerdekaan & Pemutaran Film-film Sejarah Perjuangan di Kompleks Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta; dan kegiatan sepedaan Friends of Museum di hari terakhir, Jumat 1 Oktober 2010 mulai jam 14.00 WIB sekaligus sebagai rangkaian acara penutupan dengan berkeliling ke museum-museum di kota Yogyakarta.

Kepala Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta, Dra. Sri Ediningsih, M.Hum mengatakan tahun kunjungan museum 2010 ini merupakan sebuah momentum awal dari gerakan nasional cinta museum yang sekaligus menjadi upaya untuk memperkuat posisi museum sebagai jendela budaya dan bagian dari pranata kehidupan sosial budaya Bangsa Indonesia.**(Eyu)

Label: , , , , , ,

Jumat, 24 September 2010

Lomba Foto Pariwisata Jogja Dalam Lensa 2010

Jogja– Dalam rangka memperingati hari ulang tahun kota Yogyakarta ke 254 , Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta kembali akan menyelenggarakan Lomba Foto Pariwisata Jogja Dalam Lensa 2010. Lomba Foto Pariwisata 2010 ini diharapkan dapat menarik wisatawan pada umumnya dan para pecinta fotografi pada khususnya.

Menurut Ketua Panitia Lomba,Drs. Bysry Romley, kegiatan yang akan diselenggarakan 16 Oktober 2010 mendatang ini mengambil tema tentang Jogja Java Carnival sehingga harapannya sasaran pemotretan ada pada seluruh rangkaian acara JJC 2010 yang akan diselenggarakan di sepanjang Malioboro pada 16 Oktober 2010. Bysry mengatakan kegiatan lomba foto ini dimaksudkan untuk mendokumentasikan segala aktivitas pada pergelaran JJC 2010 dalam karya fotografi.

“Selain mendokumentasikan aktivitas JJC 2010, kegiatan ini juga untuk mendorong kreativitas dan produktivitas seniman foto untuk mengabadikan momen Jogja Java Carnival. Kegiatan ini juga untuk menjadikan karya foto sebagai bahan promosi dan informasi pariwisata kota Yogyakarta serta menambah jumlah wisatawan yang berkunjung ke Kota Yogyakarta khususnya pada saat diselenggarakannya JJC 2010,” katanya Jumat (24/9).

Kegiatan Lomba Foto Pariwisata 2010 yang terbuka untuk umum dan akan memperebutkan total hadiah Rp 20 Juta ini tidak dipungut biaya dan diharapkan dapat diikuti fotografer profesional maupun amatir baik nasional maupun internasional. Bysry menambahkan beberapa ketentuan teknis yang harus dipenuhi para peserta antara lain karya foto dikirimkan dalam amplop tertutup, dengan tulisan LOMBA FOTO PARIWISATA KOTA YOGYAKARTA TAHUN 2010 yang ditujukan kepada PANITIA LOMBA FOTO PARIWISATA JOGJA DALAM LENSA 2010 d/a. Jl. Suroto No. 11 Kotabaru Yogyakarta 55224, atau diantar sendiri ke alamat tersebut.

Sementara untuk obyek pemotretan adalah event Jogja Java Carnival 2010 yang diselenggarakan pada tanggal 16 Oktober 2010 di kawasan Malioboro. Peserta diberi kesempatan untuk mengirimkan 10 karya foto, yang merupakan karya pribadi bukan karya orang lain dan belum pernah dipublikasikan ke media massa dan belum pernah memenangkan lomba foto dimanapun. Peserta bebas menggunakan segala tipe kamera, baik digital maupun analog. Foto merupakan hasil print out diatas kertas (berwarna atau hitam putih) ukuran 12 R, Sisi terpanjang 40 cm dan minimal 30 cm, sisi pendek mengikuti format yang dipilih fotografer tanpa mounting. Dibalik foto ditempel kertas berisi nama, alamat, keterangan judul, serta nomor telepon yang bisa dihubungi dan peserta lomba wajib menyertakan soft copynya dalm bentuk CD.

Selain itu ketentuan teknis lain adalah tiap peserta tidak diperkenankan memanipulasi foto, olah digital diperbolehkan sebatas burning, dodging, sharpening dan cropping tanpa mengubah nilai dokumentasi karya. Karya yang dikirimkan menjadi milik panitia dan panitia berhak menggunakan karya yang dikirim sebagai bahan publikasi pariwisata/umum tanpa batas waktu yang ditentukan.

Jadwal pengumpulan karya foto dilakukan 18 – 25 Oktober 2010, sementara penjurian dilakukan pada 2 November 2010 di Ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta. Sedangkan pengumuman pemenang langsung akan dilakukan setelah penjurian. Untuk hadiah bagi pemenang akan dilakukan 13 November 2010, sementara pameran hasil lomba foto akan digelar 13 – 16 November 2010.

Lomba Foto Pariwisata Kota Yogyakarta 2010 ini akan memperebutkan hadiah total Rp 20 Juta dengan rincian Juara I Rp. 5 Juta, Juara II Rp 3,5 Juta, Juara III Rp. 2,5 Juta, selain itu juga dipilih 30 nominator yang masing-masing karyanya akan dihargai Rp. 300 Ribu. Pajak hadiah menjadi tanggungan para pemenang.

Lomba Foto Pariwisata Kota Yogyakarta 2010 ini akan dinilai oleh dewan juri yang terdiri dari Herry Wiyanto, A.FPSI (Fotografer Profesional - Magelang), Nofria Doni Fitri, A.FPSI (Dosen Fotografi dan Praktisi Foto - Jogja), Tonisuria (Fotografer Profesional - Jogja), Drs. Risman Marah (Dosen Fotografi dan Praktisi Foto - Jogja), dan Budi Prast (Wartawan Foto Kabare Magazine). **(eyu)

Label: , , , , , , ,

Minggu, 01 Agustus 2010

Festival Malioboro 2010 Mengembalikan Ruh Malioboro

Jogja – Banyak kalangan menilai Malioboro sudah kehilangan ruhnya, dimana kesibukan dan kemacetan terus mewarnai kawasan jantung kota Yogyakarta ini, termasuk romantisme malioboro yang kian memudar. Kawasan Malioboro yang merupakan ikon pariwisata kota pelajar ini sampai sekarang masih terkesan kotor, kumuh, dan semrawut. Jika tidak ditangani dengan baik dikhawatirkan bisa menurunkan citra pariwisata di kota ini. Apalagi kawasan ini tidak saja menjadi salah satu tempat tujuan wisatawan, namun juga sebagai pusat bisnis dan perkantoran di Kota Yogyakarta.

Untuk mengangkat citra Kota Yogyakarta sekaligus mengembalikan ruh Malioboro, Dinas Pariwisata Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menggelar Festival Malioboro 31 Juli – 1 Agustus 2010. Kegiatan Festival Malioboro ini diikuti 10 propinsi di Indonesia ini yang dimulai Sabtu sore (31/7) dengan Kirab Budaya dan Pawai kesenian dari berbagai daerah yang start dari Taman Parkir Abu Bakar Ali Yogyakarta menuju Benteng Vredeburg. Selain kirab budaya dan kesenian dari masing-masing daerah di DIY, kegiatan ini juga diisi food bazaar, pentas seni, lomba foto serta lomba kebersihan pedagang kaki lima. Kirab Budaya dan Pawai Kesenian ini mewarnai kawasan malioboro yang dipadati masyarakat . Event yang sudah kali kedua ini melibatkan perwakilan mahasiswa dari berbagai daerah yang ada di Yogyakarta, yang juga didukung para seniman.

Kasi Promosi Dinas Pariwisata Propinsi DIY, Dra.Putu Kertiyasa mengatakan pihaknya berusaha melakukan sesuatu yang berbasis budaya sebagai pengkayaan Jogja sebagai kota wisata melalui pertunjukan seni dan budaya serta atraksi kesenian dari masing-masing kabupaten di DIY. Festival Malioboro ini sengaja diangkat layaknya street art lainnya, namun kawasan Malioboro-lah yang menjadi panggung kesenian sehingga diharapkan dapat menarik wisatawan untuk menyaksikan berbagai macam kesenian dari DIY.

“Malioboro integrated menjadi panggung bersama, panggung terpanjang. Malioboro merupakan pusat pertumbuhan, sehingga tidak hanya berbelanja tapi juga menyaksikan pertunjukkan seni dan budaya,” jelasnya.

Festival Malioboro ini berbeda dibandingkan festival budaya lainnya yang diselenggarakan di kawasan malioboro sehingga event tahunan ini memiliki kekhasan yang setidaknya mampu melibatkan daerah lain seperti komunitas pelajar dari daerah lain**(eyu)

Label: , , ,