Kamis, 09 September 2010

PPFI Desak Pembentukan Corporation Film

Jogja – Membuat film layar lebar tentunya membutuhkan dana yang sangat besar termasuk untuk promosi dan publikasi. Seluruh biaya pembuatan film sampai sekarang masih didanai oleh sang produser dan jika ini terus dilakukan maka akan sangat berat bagi seorang produser,jika film dinilai gagal. Belum adanya dukungan pemerintah terhadap penyelenggaraan sebuah film khusunya dalam hal keuangan, membuat Persatuan Produser Film Indonesia (PPFI) tergugah untuk membentuk Film Finance Corporation.

Persatuan Produser Film Indonesia (PPFI), melalui ketuanya, Raam Punjabi menghimbau kepada pemerintah untuk membentuk Film Finance Corporation, dimana pemerintah ikut andil dalam segala hal, mulai keuangan hingga penentuan tema, sehingga jika film gagal diterima masyarakat, maka kerugian tidak sepenuhnya ditanggung oleh produser.

“Selama ini yang membiayai seluruh pembuatan film adalah produser dan kalau film itu gagal, maka 100% ditanggung oleh produser, sehingga bisa jadi setelah itu semangat produser patah dan tidak ada kelanjutan lagi. Makanya, penting sekali jika pemerintah mau ikut andil dalam mendanai pembuatan film,” katanya saat ditemui beberapa hari lalu.

Menurutnya, pemerintah memang diharapkan dapat ikut serta dan andil dalam pembuatan film setidaknya dapat menanamkan modal 75 persen. Kalaupun film gagal maka produk tersebut bisa diwariskan ke generasi penerus. “Itu harapan saya, semoga bisa segera dibentuk corporasi film sehingga ide-ide cemerlang seperti ini, yang memerlukan biaya produksi yang besar bisa didukung pemerintah sehingga produser tidak merengek-rengek minta dikasihani, tapi minta partisipasi pemerintah agar bahu membahu antara pelaku film dan pemerintah untuk bisa menjalankan fungsinya dalam bidang perfilman,” imbuhnya.

Sementara ketika disinggung mengenai kesan berada di Jogjakarta, pria yang mempunyai nama lengkap Raam Jethmal Punjabi ini mengaku senang bisa ada di Jogjakarta, bahkan kalau ada hari libur, produser berumur 67 tahun ini selalu menghabiskan hari-hari dengan mengelilingi Jogjakarta. Tidak hanya itu, pria kelahiran Surabaya 6 Oktober 1943 ini mengaku tertarik dengan wisata kuliner yang ada di kota budaya ini seperti Gudeg Yu Jum, dan menikmati Ayam Goreng Mbok Berek. “ Saya ini kan lahir di Surabaya, dan sama-sama jawa dengan Jogja makanya saya punya perasaan emosional, jadi kalaupun ada kesempatan saya selalu datang kesini. Banyak yang bisa dinikmati disini khususnya wisata kulinernya. Di Jogja banyak yang unik dan tidak ada salahnya mencoba sesuatu yang unik itu,” cerita pria yang juga menyukai makanan lesehan ini.**(eyu)

Label: , , , , , ,

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda